suluah

Aplikasi SULUAH MINANG ini merupakan aplikasi yang membahas tentang sejarah islam di Minangkabau, mulai dari sejarah masuknya Islam, perkembangan Islam, Tokoh Penting didalam mengembangkan Islam di Minangkabau, Sistem dan tatanan masyarakat Minangkabau. Selain itu, aplikasi ini juga di lenkapi dengan audio. Aplikasi SULUAH MINANG ini  nantinya akan menggunakan android mobile untuk menjalankan aplikasinya. 

Aplikasi SULUAH MINANG yang dikembangkan membutuhkan perangkat komputer untuk menjalankan aplikasi dengan spesifikasi sebagai berikut :

  1. Kebutuhan Perangkat Keras

Pengambang :

Perangkat keras (hardware) meliputi :

  1. Processor                           : Intel Core2Duo T6600 2.2 GHz
  2. Memory                             : 2 GB DDR2
  3. Monitor                             : 12.1” WXGA (DCS)
  4. Mouse dan Keyboar          : Standard
  5. Modem                              : GSM

Pengguna : HP dengan OS Android minimal versi Gingerbird (2.3.3)

  1. Kebutuhan Perangkat Lunak

Spesifikasi software yang dibutuhkan saat mendesain dan menjalankan Aplikasi SULUAH MINANG adalah sebagai berikut :

  1. Sistem Operasi                  : Windows 7 32 bit
  2. Bahasa Pemrograman        : Java, XML
  3. Perangkat Lunak               : Eclipse, JDK, SDK, ADT dan Notepad+
  4. Desain                               : Adobe Photoshop CS 3, Corel Draw X4

 

Tampilan APlikasi :

 

4

Tampilan Awal Aplikasi

6

Tampilan Layout Sekapur Sirih

7

 

Tampilan list view sejarah minangkabau

 

9

Tampilan layout tentang agama

10

Tampilan Layout tentang sejarah minangkabau

15

 

Tampilan layout tentang artikel untukmu para pencari akhirat

Penjelasan Tentang Minangkabau

Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa  dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, seaparuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia. Masyarakat minangkabau lebih dikenal dengan Masyarakat Padang, karena ibu kota provinsi Sumatera Barat yaitu kota padang. Namun, masyarakat minang menyebut dirinya dengan sebutan urang awak yang bermaksud orang Minang.

Menurut A.A Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta menganut sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal. Walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam, sedangkan Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur.

Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia. Selain itu, etnis ini juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang berarti berlandaskan ajaran islam.

Orang Minangkabau sangat menonjol di bidang perniagaan, sebagai professional dan intelektual. Mereka merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis. Hampir separuh jumlah keseluruhan anggota masyarakat ini berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya bermuki di kota-kota besar seperti Jakata, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang dan Surabaya. Di luar wilayah Indonesia, etnis Minang banyak terdapat di Kuala Lumpur, Saremban, Singapura, Jeddah, Sydney dan Melbourne.

1.1.1        Sejarah dan Perkembangan Agama Islam

Masyarakat Minang saat ini merupakan pemeluk agama Islam, Jika ada masyarakatnya keluar dari agama Islam (murtad), secara langsung yang bersangkutan juga di anggap keluar dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut “dibuang sepanjang adat”. Agama Islam diperkirakan masuk melalui kawasan pesisir timur, walaupun ada anggapan dari pesisir barat, terutama pada kawasan Pariaman, namun kawasan Arcat (Aru dan Rokan) serta Inderagiri yang berada pada pesisir timur juga telah menjadi kawasan pelabuhan Minangkabau, dan Sungai Kampar maupun Batang Kuantan berhulu pada kawasan pedalaman Minangkabau. Sebagaimana pepatah yang ada di masyarakat, Adat Manurun, Syarak Mandaki (Adat diturunkan dari pedalam pesisir, sementara agama (Islam) datang dari pesisir ke pedalaman), serta hal ini juga dikaitkan dengan penyebutan Orang Siak merujuk kepada orang – orang yang ahli dan tekun dalam agama islam.

Sebelum Islam diterima secara luas, masyarakat ini dari beberapa  bukti arkeologis menunjukkan pernah memeluk agama Buddha terutama pada masa kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, sampai pada masa – masa pemerintahan Adityawarman dan anaknya Ananggawarman. Kemudian perubahan struktur kerajaan dengan munculnya kerajaan Pagaruyung yang telah mengadopsi Islam dalam sistem pemerintahannya, walau sampai abad ke-16, Suma Oriental  masih menyebutkan dari tiga raja Minangkabau hanya satu yang telah memeluk Islam.

Kedatangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Mekkah sekitar tahun 1803, memainkan peranan penting dalam penegakkan hukum Islam di pedalaman Minangkabau. Walau di saat itu muncul tantangan dari masyarakat setempat yang masih terbiasa dalam tradisi adat, dan puncak dari konflik ini muncul Perang Padri sebelum akhirnya muncul kesadaran bersama bahwa adat berasaskan Al-Qur’an.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minang diakses pada tanggal 1 September 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Sumatera_Barat diakases pada tanggal 1 September 2013

 

Download Aplikasi Suluah Minang >> Klik Disini