jatuh

Segala pujian hanya milik Allah. Yang beribadah berupa kecintaan, ketakutan, dan pengharapan adalah khusus untuk-Nya. Tiada kembali segala urusan kecuali hanya kepada-Nya. Rabb yang menciptakan seluruh alam beserta isinya. Dimana segala rasa bersumber dari-Nya.

Amma ba’du.

Allah ta’ala berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2).

Cinta, seberapa banyak orang mampu mendefiniskan kata ini ? Segelintir mencoba berpuisi, berprosa, berayun kata, namun nihil tak ada yang mampu menjelaskan detailnya. Boleh jadi kita hanya mendeskripsikan rasanya ketika cinta itu melanda, atau segelintir lain mendefinisikan pedihnya saat cinta itu terlepas.  Yang saya maksud tentang cinta kepada lawan jenis.

Ulama’ semisal Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitab beliau yang membuat gemetar para penahan rindu, Raudhatul Muhibbin. Menjabarkan begitu banyak makna terkait perasaan cinta. Dibagian mana kita berada itu bergantung dari keadaan kita. Yang jelas, tak ada makna cinta secara pasti. Dan perlu diingat wahai para pencinta, Allah lah yang berhak atas setiap puncak cinta.

Jika rindu itu tanda cinta, maka Allah yang utama berhak di rindui

Jika pias saat berjumpa itu tanda cinta, maka bergembiralah wahai para pencinta, jadikan ketakutanmu kepada Allah untuk merintih berdoa, mintalah Surga-Nya dan dijauhkan dari Neraka-Nya

Jika gelisah berpisah itu tanda cinta, maka hendaknya gelisah saat jauh dari Allah sang Pencipta

Rasa itu tumbuh, ditandai dengan ketertarikan, ditengahi dengan gemetar pias saat berpapas, diakhiri dengan gundah saat berpisah. Seperti halnya datangnya rasa, tak pernah bersua kabar tetiba berucap tanpa sadar

Aku jatuh cinta

Dan satu yang dirindukan saat kita jatuh cinta, yaitu sebuah pertemuan. Lama atau sebentar, yang penting ada.

Jika pertemuan mengundang berkah dari Allah, yakni usai ikrar akad sesuai syariat Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Menjadikan lutut yang semula tegak angkuh, langsung lemas karena memegang ubun-ubun mendoakannya. Saksikanlah, keindahan cinta mengalun pelan, tanpa khawatir siksa Allah, yang ada hanya lantunan syukur kehadirat Yang Maha Kuasa.

Namun jika pertemuan diluar ikatan halal, menyebabkan hati yang tenang tetiba gelisah, mata yang terjaga tetiba meraja, tangan yang tertahan tetiba berkuasa. Atau kaki yang lama sekali teguh, langsuh runtuh. Maka saksikanlah, pertemuan yang tidak diridhai Allah sedang kau jalani. Tiada jalan menghindar, kecuali ketakutan kepada Allah. Berlarilah menjauh, singkirkan segala penat nafsu yang merajai, dan pilih jalan yang Allah ridhai.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41

Adapun barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsunya, maka surgalah tempat kembalinya.” (QS. an-Naazi’aat: 40-41)

Kita bukan pemuda seperti Yusuf alaihis salam, saat peluang itu ada, namun Beliau tak bergeser bahkan lari menjauh.

Pernah mendengar sebuah kisah laki-laki shalih yang bergemetar hebat saat kakinya dan kaki wanita yang diinginkannya hampir bertaut ? Lantas dia pergi meninggalkan begitu saja. Karena rasa takutnya kepada Allah.

Atau doa seorang pemuda yang terperangkap di dalam gua. Tentang saudarinya yang malang meminta bantuannya. Lantas diutarakan syarat dengan mereguh kenikmatan sesaat bersama. Namun bergetar saat didengungkan kalimat “Takutlah engkau kepada Allah”.

Kita manusia biasa, wajar dan normal saat senantiasa merindu pertemuan dengan yang dicinta. Tapi jika pertemuan demi pertemuan mengundang petaka, bukankah lebih baik kita diam lantas berdoa mengadu kepada Allah yang Maha Bijaksana? Adukanlah, mintalah ketenangan hati dan jiwa. Tahanlah mata, tundukkan, jangan jadi pemuda yang biasa-biasa saja. Jadilah pemuda seperti permisalan diatas. Berat, tapi bukankah sudah diketahui bersama, bahwa jalan Allah ini panjang lagi berat. Tapi jika berpaling, maka akan tersesat. Sudah jelas pilihannya, bertatih dan reguklah kenikmatan karena berdekatan dengan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

Akan bisa merasakan lezatnya iman, yaitu orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu).

Kelezatan iman diraih dengan tiga hal pokok tersebut. Namun apakah ridha hanya sekedar ikrar tanpa perbuatan. Meridhai Allah sebagai Rabb maka juga meridhai syariat yang Allah tentukan atas kita. Bertindah patuh, menjalankan segala titah dan menjauhkan diri dari murka. Ridha islam sebagai agama, maka menyetujui aturan-aturan didalamnya. Bahwa mereka yang jatuh cinta, hanya satu obatnya, menikah dengan yang dicintainya.

Ridha Muhammad sebagai rasul, bukan sekedar mengakui bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Akan tetapi juga, berusaha keras menjadikan beliau teladan dalam segala hal. Termasuk bagaimana ketika beliau tertarik dengan seseorang. Maka ikrar halal yang beliau laksanakan, bukan pertemuan yang mengundang ancaman Allah.

Duhai para pencinta, saya sengaja mengutip firman Allah di awal kita membaca secarik tulisan singkat ini. Pesan dari sang pencipta kehidupan dan kematian. Yang pada-Nya kembali segala urusan. Sejatinya hidup ini adalah perlombaan, dengan hadiah Ridha Allah sebagai tujuan. Siapakah diantara kita yang terbaik amalnya. Jika kita mencintai, maka jadilah yang terbaik diantara mereka yang juga jatuh cinta. Jika sebagian mendefinisikan cinta itu dengan pertemuan yang diharamkan. Dengan sentuhan yang berujung siksaan. Maka definisikanlah, saat cintamu mengundang keridhaan Allah maka itulah cinta yang sebenarnya. Bertautlah mereka yang saling mencintai diatas keberkahan Rabbnya.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin

via : http://www.udrussunnah.or.id/ilmu-agama/tazkiyatun-nafs/aku-jatuh-cinta