IMG_1400

 


Wow… Mungkin pertama kali respon dari pendengar yang mendengarkan cerita saya mungkin yang terucap  adalah “ Wow.. Luarrr Biasa”, “Lho kok bisa?”, “Memangnya tidak ada proyektor?” dan tanggapan lainnya. Tetapi ini lah sebuah realita yang saya lakukan ketika melakukan sebuah pelatihan komputer dasar di Sebuah SD di Bukit Indah, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara. Daerah ini terletak di Desa Siaga Bukit Dua Belas. Daerah disana memang perbukitan, turun naik bukit. Sebelum saya memulai pembelajaran saya menanyakan kepada peserta tentang bagaimana kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan komputer atau laptop. Nah, peserta disini adalah ibu dan bapak guru SD yang ada di desa sana.

Banyak dari mereka yang mengatakan “Selama ini Cuma bisa buka tutup laptop aja, pak.Hehe”. “ Makai laptop Cuma buat ngetik soal aja pak”. Kemudian saya lanjutkan bertanya, “berarti ibu dan bapak sudah pandai ngetik dan terbiasa dengan Microsoft Office terutama Microsoft Ofice Word ya?”

IMG_1398

“Gak juga pak, sebagian bisa sebagian tidak bisa pak” jawab beberapa peserta yang hadir ketika itu.

“Ok Baiklah, sekarang kita mulai dari awal saja ya? Sekarang bapak – ibu coba buka laptop dan buka lembaran baru di Microsoft Office Word  ya? “ perintah ku.

“Ya pak.. Tapi gimana cara buka Microsoft Office Word, ya pak? “ Tanya sebagian peserta.

Lha.. !!??!! Saat itu, saya langsung jadi bingung bagaimana memulai ini semua? Akhirnya saya pun langsung menuju ke bangku masing – masing peserta dan menunjukkan ibu dan bapak guru tersebut bagaimana membuka program Microsoft Office Word.

Setelah saya mencoba untuk menyebutkan bagaimana langkah – langkah menjalankan programnya. Masya Allah.. Ternyata ibu dan bapak guru nya mencatat apa yang saya sampaikan terlebih dahulu di kertas catatan yang mereka bawa. Saya yang melihat hal yang seperti itu hanya bisa tersenyum dengan manis. Masya Allah.. Keingintahuan dan tingkat kemauan belajar mereka masih tinggi meskipun mereka sudah ada yang putih rambutnya karena faktor usianya. Setelah saya sampaikan perintah seperti itu dan mereka catat barulah mereka mencoba melakukannya. Qaddarullah, ketika itu saya tidak mencetak modul yang telah ada. Ya.. dengan sabar insya Allah saya terus lanjutkan pelatihan tersebut.Hingga akhirnya melihat kondisi yang seperti itu, akhirnya saya berinisiatif untuk mencatatkan saja apa – apa saja yang akan di pelajari hari ini. Karena kwatir kalau saya ketikkan di laptop dan di tampilkan di layar melalui proyektor, mereka nanti bingung dengan apa yang saya lakukan. Maka jadilah saya menulis dengan kapur tulis di papan black board. Lucu sih memang, belajar IT dengan black board dan kapur tulis. Tapi hal itu sangat menarik sekali bagi saya dan mengantarkan saya seolah – olah merasakan indahnya belajar dengan kapur tulis ketika masih kelas SD belasan tahun lalu.

Aku berpikir guru – guru disini masih sangat jauh ketinggalan dengan sistem pembelajaran di sekolah – sekolah perkotaan. Jangankan melihat ke Jakarta, Ibu Negara Indonesia ini, mungkin ke daerah kota yang masih di pulau Kalimantan semisal Kota Tarakan  saja saya rasa sangat jauh tertinggal. Jangankan untuk tahu bagaimana membuat media pembelajaran interaktif dengan IT agar siswa mereka semakin antusias untuk belajar, untuk kebutuhan mereka sendiri untuk menggunakan laptop atau memanfaatkan IT masih belum optimal. Tapi saya sangat yakin, melihat antusias belajar mereka yang sangat luar biasa mereka juga bisa melakukan hal yang sama bahkan lebih dibandingkan dengan sekolah perkotaan yang ada.

Tapi ya… semuanya butuh proses, bila hari ini baru bisa buka tutup laptop, mudah-mudahan nanti mereka sudah tahu bagaimana menggunakan dan memanfaatkan IT dengan baik dan optimal untuk proses pembelajaran mereka disekolah.

Tanjung Selor, 20 Januari 2014