ibu

 

Bismillah..

Kisah ini ku kisahkan sekitar tiga tahun yang lalu, ketika bulan desember mulai memasuki ruang hari hidupku. Sungguh, begitu cepat berlalu hingga kini tiga tahun sudah waktu itu telah terlewati. Alhamdulillah.. disetiap cobaan yang ku lalui hari ini.Sebuah peristiwa yang selalu teringat di saat – saat terakhir itu hingga kini bagiku.

Ketika itu, aku memutuskan untuk pulang ke kampung ku setelah sekian lama tidak pulang kampung. Kerinduan ke pada Ibu dan bapak semakin tak terbentung.

Setelah sampai di kampung dan rumah tercinta , di sela – sela waktu istirahat ku, aku menonton televisi. Tak lama kemudian ibu ku memanggilku. “Nak, tolong potong kuku kaki ibu. Sudah panjang” pintanya.

Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil sebuah pemotong kuku yang ada di lemari ruang tamu. Kemudian aku menuju tempat duduk ibu ku yang waktu itu berada disebuah sofa di ruang dapur. Ketika itu ibuku sedang duduk bersama seorang nenek yang sudah berusia renta. Ketika aku sedang memotong kuku kaki ibu ku, ibuku mengatakan kepada nenek tersebut “Hanya kepada anak yang satu inilah aku selalu berharap dan meminta tolong untuk memotong kuku kaki ku. Meski dirumah ini banyak anak – anak ku yang bisa aku minta tolong, tapi kepada dia lah aku sangat berharap. Selain karena kakaknya yang sering bersikap keras dan adiknya yang sering bermain keluar. Bagi ku tak mengapa walaupu harus menunggu anak ku ini pulang dari rantau dan kuku ku makin panjang. “

Aku hanya bisa terdiam, Subhanallah… Betapa besar nya harapan ibu ku kepada ku.

Kemudian nenek itu menambahkan “ Begitulah nak, seorang ibu yang sangat berharap banyak kepada anaknya. Jadilah anak yang baik ya nak, biarlah orang lain seperti apa yang penting tetaplah kamu menjadi anak yang baik. Nurut pada orang tua, dan jangan berbuat kasar kepada orang tua mu.”

Aku hanya bisa mengangguk, walaupun sebenarnya aku merasakan kesedihan yang sangat.

Selepas dari itu, malam harinya aku langsung mengungkapkan keinginanku kepada ibuk dan bapak ku untuk melanjutkan kuliah ku di sebuah kampus ternama di pulau jawa. Kampus ITB.

“Ibu, bapak… ini aku ada uang beasiswa sekitar 1.5 juta. Simpanlah uang ku ini boleh untuk bapak dan ibuk pakai. Tapi nanti kalau boleh aku meminta aku ingin uang ini disimpan untuk melanjutkan kuliah ku di ITB. “

Ibu ku langsung mengambil uang tersebut dan menyimpannya. Ibu ku ketika itu bilang “ Nanti akan aku coba tanyakan kepada mamak (paman) mu digunakan untuk apa uang ini bagusnya”.

Setelah itu, aku kembali menonton televisi, waktu itu sudah lewat jam 9 malam. Aku menonton televisi hanya berdua dengan ibuku. Ketika itu ibuku duduk  bersandar disebuah dinding dari sebuah sofa. Kondisi kaki ibu ku yang dulu pernah stroke selama 3 tahun membuat dia tak mampu untuk duduk  bersela atau langsung duduk di atas lantai sehingga butuh sebuah sofa atau kursi untuk dia duduk.

Ketika aku sedang asyik menonton televise akhirnya aku tersadar bahwa dari tadi ternyata ibuku menatap ku tanpa mengedipkan matanya. Kemudian aku mencoba menoleh kearahnya. Entahlah apa yang ia pikirkan, hingga ia menatapku begitu dalam. Selain itu, ku coba tuk lihat kedua mata nya. Ku lihat ada sarat tajam dan tatapan penuh makna. Tapi entahlah ketika itu aku perhatikan di sudut kedua  bola matanya keluar seperti kotoran mata berwarna hitam. Kemudian aku beranikan untuk bertanya . “Ibu… kenapa kedua bolah matamu? “

“Mata ku lagi sakit, nak” Jawabnya

Setelah itu, ibuku  langsung pamitan kepadaku untuk tidur lebih awal dan kemudian masuk ke kamarnya. Keesokan harinya aku memutuskan kembali ke kota tempat aku merantau, menimba ilmu. Ilmu dunia dan Ilmu Agama Islam. Kota Padang.

Tanpa berpikir aneh – aneh tentang ibuku, selesai berpamitan, aku kemudian pergi  naik bus perjalanan menuju kota padang.

Tetapi Qaddarullah, 2 minggu kemudian setelah aku pulang kampung, tiba – tiba saudara laki – laki ku meneleponku dan langsung meminta ku untuk pulang kampung saat itu juga, Beliau mengabarkan bahwa kondisi ibu ku sedang darah tinggi. Kemudian aku berpamitan kepada teman kelas dan teman di rumah, setelah 5 jam perjalanan aku akhirnya sampai di kampung ku. Selama perjalanan pulang sebenarnya aku telah mengira bahwa akan ada hal yang buruk akan terjadi. Karena telpon ku mati kehabisan baterai selama perjalanan, jadi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya diam, dan pasrah. Dan saat diperjalanan juga aku mengatakan didalam hatiku “ YA Allah…apabila kejadian buruk menimpa ibuku, ibuku meninggal insya Allah aku ikhlas, Aku juga ndak tega selama ini melihat ibuku harus menanggung sakit yang ia derita. Sakit di perutnya, sakit karena stroke yang di derita belum lagi sakit karena cemoohan orang lain terhadap dirinya. Ya bagaimana tidak, selama ini ibuku selalu mengadu dan bercerita kepada ku bahwa orang – orang disekitar, baik tetangga maupun siapapun sering mengejek dan mengolok – olok dirinya. Memang tak semua orang, tapi ada beberapa orang yang sering berbicara seperti itu pada dirinya. Bahwa ia berbau busuk. Suka buang air kecil di celana, dan lain segala macamnya. Dan aku hanya bisa menahan dan menahan dari setiap ocehan orang lain. Aku sendiri pun tak berbuat banyak, melihat kondisi ibuku yang susah untuk berjalan, kadang ketika ia berusaha untuk tetap kuat berjalan, di perjalanan ia buang air kecil. Ya.. Apa yang hendak aku kata. Aku tak bisa berbuat banyak. Karena kondisi itu lah, aku berusaha untuk mengikhlaskan bila ibuku harus di panggil oleh Rabb sang  maha pencipta – Allah subhana wa ta’ala. “

Sesampai di perhentian bus, ternyata sudah ada sepupu aku yang menjemput, ia sudah menunggu dari tadi karena HP ku tidak bisa dihubungi akhirnya ia hanya bisa menunggu.

Diperjalanan sepupu ku tak ada bicara apapun, ia hanya diam. Dan aku pun hanya diam. Dan sesampai di gerbang akan masuk rumah, aku melihat puluhan bahkan ratusan motor dan beberapa mobil sudah berjejer. Aku melihat keramain. Innalilllahi wa inna ilaihi roji’un. Semua nya milik Allah dan Akan kembali Ke pada Allah.. Ternyata dugaan aku benar, Ibuku telah Meninggal dunia. Aku hanya bisa diam, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Sedih.. Tentu.. Tapi aku berusaha untuk tidak menitikkan air mataku. Kemudian datang bibi kepadaku, “ Yang sabar ya nak, jangan terlalu bersedih dan menangis. Kasihan lihat ibu mu, dan adik mu juga menangis”. Aku mencoba untuk menahan air mataku, Kemudian aku mencoba menuju ruang dapur, dan mengambil telepon ku dan memberitahukan kepada teman – teman ku bahwa aku izin tidak kuliah bahwa ibu ku meninggal. Setelah itu, aku kembali menuju ke ruang dimana ibu ku di baringkan ditempat tidurnya, waktu itu memang sudah sangat malam, waktu itu malam hari jum’at. Atau Kamis malamnya. Rata – rata orang di ruang tamu sudah membaca yasinan. Aku bingung aku harus membaca apa. Bibi dan nenek menyodorkan al qur’an kepada ku. Meminta aku untuk membaca yasinan. Tetapi karena aku tau bahwa yasinan ketika orang meninggal tidak ada tuntunan nya, akhirnya aku memutuskan untuk membaca surat Al- Kahfi saja, Qaddarullah waktu itu sudah hari jum’at. Makanya aku putuskan untuk membaca surat Al- Kahfi saja. Bukan untuk si mayyit, tapi untuk amalan di hari jum’at saja.

Keesokan harinya adalah hari jum’at. Keluarga ku sebagai ahli waris memutuskan untuk menshalatkan ibuku setelah usai shalat jum’at. Keluarga ku meminta ku untuk menjadi imam shalat jenazah. Subhallah.. Alhamdulillah.. Aku melihat hampir seluruh ruang masjid itu penuh oleh jamaah yang menshalatkan ibuku. Aku pikir ada lebih dari 100orang yang menshalatkan dan mengantarkan hingga ke liang lahat. Semoga Allah mengampuni dosa – dosa ibuku. Aamiin.

Kini telah hampir 3 tahun sudah ibu ku meninggal. Tanpa aku sadari ternyata permintaan memotong kuku beliau adalah permintaan terakhir dari beliau, begitupun ucapan dan nasehat yang beliau sampaikan kini sudah seperti wasiat bagi aku sebagai seorang anak. Dan tanpa aku sadari ternyata malam itu juga malam terakhir aku bisa menatap wajah ibu ku, menatap matanya.

Ada rasa gundah sebenarnya dalam diri ini, kesedihan ketika melihat orang lain pergi kesana – kemari bersama dengan orang tua nya terutama dengan ibu nya. Terlebih di usia yang menginjak dewasa seperti ini, sebenarnya sangat diperlukan dampingan orang tua terlebih seorang ibu. Setidaknya untuk berbagi cerita suka maupun duka yang dialami. Karena masa muda masa yang sangat sensitive sekali pikirku. Tapi Qaddarullah, ini lah jalanku, Aku hanya bisa pasrah dan tawakkal dengan semua yang Allah berikan jalan untuk ku. Meskipun sebenarnya berat untuk hidup di usia seperti tanpa ada nya seorang ibu. Tapi aku berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Semoga Allah menjaga ku, dikala aku sendiri ataupun bersama orang lain, sungguh aku tak ingin berbuat maksiat, berzina, pacaran dan lain sebagainya. Ya.. Berat memang, tapi aku yakin… Insya Allah.. Allah telah menyiapkan hal yang terindah untuk ku.

Ya.. Aku sangat bersyukur sekali ketika kini impian yang aku dampakan untuk bisa kuliah di ITB telah aku raih, aku sangat bersyukur sekali. Meskipun tanpa adanya seorang ibu setidaknya aku masih bisa untuk berbakti kepada orang tua ku. Karena masih ada bapak ku. Aku sangat berharap bahwa aku bisa menjadi anak yang bermanfaat untuk ibu – bapak ku. Cita – cita yang aku inginkan selama ini adalah memberikan sebuah mahkota terindah kepada ibu dan bapakku di akhirat kelak dengan berusaha menjadi penghafal al – Qur’an. Meskipun terkadang hafalan yang aku punya sering hilang, aku insya Allah akan terus berusaha untuk menghafal al- Qur’an. Semoga amal ibadah yang aku lakukan hari ini dapat menjadikan ibu ku terlepas dari siksaan kubur dan Allah melapangkan kuburannya . Aamiin.. ya Rabbal Aalamiin.

 

Tanjung Selor, Kalimantan Utara, 22 Januari 2013