Perjalanan dalam hidup memang tak ada satu orang pun yang tahu dimana akhir dari cerita perjalanan hidup kita ini. Semuanya telah diatur oleh Allah, rizki, mati, dan segala macamnya. Sebagai Hamba Nya kita selalu berharap untuk tetap berada di atas kebaikan dan berakhir di dalam kebaikan pula. Aamiin.

Menjalani hidup sebagai seorang pemuda yang mencoba untuk tetap belajar mandiri dan memperbaiki diri dan hidup diperantauan bukanlah suatu hal yang gampang aku rasakan. Terlebih dikala masa – masa sulit seperti yang aku alami saat ini. Butuh bimbingan dari orang tua, guru dan teman untuk berbuat kebaikan sangatlah aku rasakan. Bukan berarti selama ini aku tidak di bimbing dan diarahkan oleh orang tuaku, tapi aku sadar akan bagaimana kondisi orang tua dan keluarga sendiri. Mereka selalu sering menasehati bagaimana menjalani hidup diperantauan, bagaimana kita musti bersikap terhadap orang lain. Tapi ada sebuah rasa yang aku rasakan yang aku rindukan, yakni sebuah kehangatan dalam keluarga. Bukan aku menyalahkan takdir, sekali – kali tidak bahkan untuk ingin meratapi ibuku yang telah meninggal pun tidak pernah terbesik dihati ku. Tapi aku hanya merindukan sebuah kehangatan dekap dari kedua orang tuaku, terlebih ketika ku lihat teman – teman yang memiliki orang tua yang lengkap mereka bisa berbagi, bercerita tentang pengalaman hidup, cerita bagaimana serunya perjalanan atau sekedar bercanda melepas beban hidup… Aku hanya bisa terdiam, menunduk, tak tau apa yang musti ku perbuat. Masya Allah. Jagalah hamba ya Allah.

Kini, aku merantau dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, berharap ada sebuah rezeki dari sana atau sekedar mencari pengalaman hidup. Semakin hari semakin ku rindukan, sebuah ketenangan, kebahagiaan yang dulu aku dapatkan. Ketika aku merasakan hati ini di selimuti oleh ketenangan, ketenangan ketika duduk dimajelis ilmu,  berteman dengan teman- teman yang baik dan memberikan aku sebuah kenyamanan, tapi semakin hari aku merasakan hal itu hilang. Aku semakin merasakan sebuah kehausan, haus akan ketenangan dan kebahagiaan. Cek cok akhir – akhir ini dengan seorang teman dekatku, yang aku mencintainya karena Allah. Belajar banyak kebaikan darinya, seakan membuat aku merasa terenyuh dan kepedihan yang sampai saat ini masih ku rasakan. Berkali – kali ku coba tuk redam rasa perih ini, tapi semakin sering pula kepedihan itu kurasakan, entahlah apa yang aku rasakan aku juga tidak mengerti. Aku merasa sedikit kecewa dengan semua ini,

Mungkin tak banyak yang tau apa yang terjadi, tapi aku cukup merasakan pilu. Meskipun telah memaafkan atas semua ini, tapi pilu itu masih ku rasakan. Aku sangat berharap agar Allah menghilangkan rasa pilu dan sedih ini. Aamiin..

Kalau teringat tentang semua dari awal perjalanan menggapai cita – cita di kota kembang ini, gundah rasanya. Kecewa. Tapi semua ini juga salahku, salahku yang terlalu berharap kepada orang lain. Hampir 4 tahun berteman, banyak hal yang kita jalani bersama, hingga sewaktu aku mulai goyah, ia yang sering meyakinkan diri ini untuk tetap kuat dan sabar, ketika aku lemah seakan tak berdaya ketika kepergian ibu ku tercinta untuk selamanya ia yang berusaha untuk tetap meyakinkan aku untuk tetap sabar dan kuat. Hingga akhirnya aku berkesimpulan bahwa ia lah teman yang baik, teman yang aku cari selama ini dan aku pun mengganggap ia sudah seperti saudaraku sendiri, selain karena saudara karena islam, aku juga sudah mengganggapnya seperti layaknya saudara kandungku sendiri.

Waktu demi waktu berjalan, aku semakin belajar bagaimana adab dan akhlak didalam berteman dan bergaul, ketika aku dapatkan didalam sebuah hadist Rasulullah bahwa kita harus mencintai saudara kita seperti diri kita sendiri, teman itu seperti minyak angin dan pandai besi, salah satu golongan yang dinaungi di akhirat nanti adalah 2 orang yang mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah, dan banyak lainnya.

Dari situ aku mulai belajar dan mengamalkan ilmu, perlahan demi perlahan aku terus berusaha untuk bersikap baik, aku berusaha untuk mencintai dan membenci karena Allah.  Dan karena telah lama berteman aku berpesan kepada beliau ketika hari pertama sampai di kota kembang, “ Akhi, dikota ini ana tidak punya siapa – siapa, bila aku sakit engkaulah orang pertama yang tau, bila terjadi apa – apa engkaulah yang tau, aku berharap antum membantu ana ketika ana terjatuh”. (Kalau tidak salah ingat seperti inilah pesan yang aku sampaikan).

Tapi masya Allah, masya Allah, betapa terenyuhnya dan sedih yang teramat dalam aku rasakan, ketika pertikaian akhir ini membuat aku semakin terpuruk dalam kesedihan, ketika aku sadar, ketika ia menjelaskan seolah – olah semua yang aku lakukan selama ini, kebaikan yang aku berusaha untuk melakukan semua ini, dan ia menggap semua itu ada maksud lainnya dan ia mengganggap aku adalah salah satu orang yang ia takuti, sehingga ia,  sedikit aku salah ia kasar, sedikit aku keliru, ia marah. Perlahan demi perlahan aku merasakan sebuah kejenuhan panjang, gundah, sedih, butuh ketenangan, semuanya aku rasakan. Masya Allah, kini aku tak tau lagi musti berbuat apa kalau sudah begini, masya Allah.. masya Allah. Sungguh, hanya Allah lah tempat ku mengadu.

Waktu demi waktu setelah pertikaian itu aku kembali mencoba untuk menyusun dan menata hati ku yang semakin hari semakin rapuh dan hancur. Sedikit demi sedikit aku coba tuk redam semua ini, meski kini aku merasakan tak ada lagi teman yang seperti dulu ku dapatkan, tapi aku berusaha untuk tetap tegar, menjalani hidup sendiri insya Allah tidak lah mengapa, insya Allah ada Allah diatas sana yang selalu akan mendengar keluhku.

Kini sungguh, banyak pelajaran yang bisa ku petik dari terjal dan berlikunya perjalanan hidup ini, aku belajar untuk tetap kuat dan tegar meskipun tak ada orang yang membantu ku untuk itu, aku belajar mandiri meskipun tak ada teman untuk sekedar melepas lelah ini, hanya Allah lah untuk mengadukan semua ini.Ya hanya Allah lah tempatku tuk mengadu. Semoga Allah senantiasa menjaga ku, menjaga hati ini untuk tetap kuat dan tetap berada di atas di agama Islam serta menjauhkan diri ini dari fitnah syuhbhat dan syahwat. Aaamiin..