Bismillah..

Assalammualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Langit – langit kota kembang ini tampak mendung, tak bersinar indah seperti biasanya. Entahlah, beratnya perjuangan ini seakan membuatku lemah. Beberapa hari ini aku seperti orang linglung, bingung tak tentu arah. Banyak waktu aku habiskan hanya untuk tidur – tiduran di kamar kosan. Untuk bangkit, menyelesaikan tugas akhir ini rasanya sangat berat sekali. Bukan malas, tapi pikiran yang tak menentu membuatku tidak semangat untuk mengerjakan apa –apa.

Uang kos bulan ini yang musti dibayar, tagihan hosting yang musti di bayar, uang belanja harian yang musti di pikirkan. Rasanya terlalu banyak dana yang musti aku persiapkan. Tapi qaddarullah, ini benar – benar masa sulit. Uang yang ku punya hanya sekitar 425rbu itupun setelah celengan yang aku punya di buka kembali. Uang 400rbu itu akan digunakan untuk bayar uang kos sedangkan sisanya itulah yang akan digunakan untuk belanja harian. Tapi hari ini 25rbu bisa bertahan berapa lama?

Aku berpikir dan terus berpikir bagaimana caranya, di setiap kali berdo’a aku selalu berharap Allah berikan kemudahan dalam semua ini. Aku berharap aku bisa menyelsaikan semua ini.

Aku mencoba untuk menghubungi salah seorang kenalan senior untuk meminjam uang dari nya, sudah 3 kali berturut – turut belakangan ini aku selalu minjam uang darinya, Alhamdulillah aku bisa melunasinya, tapi kali ini ada perasaan berat dari dalam diriku “Apakah abang itu masih mau meminjamkan uang ya? Apalagi ini dalam jumlah gede.” Pikirku.

Aku coba chat via bbm, kemudian beliau menyampaikan” Afwan ki, kalau perlu cepat abang juga belum ada uang, kemaren uang dipinjam teman katanya mau dibalikin tanggal 3 ini, tapi sampai sekarang belum ada di transfer, nanti kalau uangnya sudah ada abang transfer ke antum ya ki!”.

Hanya nafas panjang yang bisa ku lakukan, ku coba untuk mengangat wajah ke langit – langit kampus gadjah duduk ini terasa sangat berat sekali. Kemudian aku berpikir, aku musti minjam kepada siapa lagi. Bingung, akhirnya esok pagi tgl 6 oktober aku beranikan diri untuk bicara kepada ibu T, ibu yang selama ini sudah berusaha untuk menjadi ibu bagiku. Meski bukan ibu kandung, tapi ia sangat baik sekali. Ia selalu berharap bahwa aku mau menjadi anak angkatnya. Perlahan ku coba untuk menerima meskipun aku sadar tidak ada yang bisa mengganti posisi ibu kandungku. Aku sangat salut pada dirinya, semoga Allah senantiasa menjaganya dan memberikan rezeki untuknya.

Tapi qaddarullah, ia juga belum ada uang “Q, kalau hari ko bu habis agiah uang kuliah ka si abang lo patang 3 juta,,, jadi dana bu yang dsimpan bu ambiak, Mudah2an di hari lain ado rezeki ibu yo q, insya Allah”. Begitulah isi pesan ibu T via bbm pada ku.

Rasa bingung kembali menghampiri, aku juga tidak tau kemana aku harus pinjam uang lagi. Minta sama bapak, rasanya tidak mungkin. Ia sering sakit – sakitan dan tentu juga butuh uang untuk keperluan adik ku. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Tapi alhamdulillah, Allah berikan aku petunjuk untuk mengubungi abang M, yang dulu abang senior yang paling aku segani. Ia yang senantiasa memberikan support ketika aku dullu merasakan kebingungan mencari jati diri. Dan Alhamdulillah kini ia yang kembali membantu ku untuk keluar dari jalan ini. Alhamdulillah ya Allah..

Dalam masa – masa sulitnya perjuangan ini aku berharap agar aku senantiasa sabar, insya Allah akan ada masanya nanti Allah berikan kelapangan. Aamiin.

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi ku, bagi abang – abang , Ibu T, dan semua orang yang telah mencoba untuk membantu ku selama ini. Syukron jazakallahu khair, barakallahu fiikum .

Advertisements