Bismillah…

Assallamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Hari jum’at yang penuh barakah ini membuat pikiranku kembali teringat akan peristiwa 3 tahun silam. Peristiwa ketika aku kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku. Hari ini Jum’at, 10 Oktober 2014. Aku bergegas menuju kampus gajah duduk di Jalan Ganesha, Bandung. Tujuan awal ke kampus adalah untuk bertemu dengan kelompok Tugas Akhir ku, tapi karena hari ini hari jum’at dan waktu akan melaksanakan shalat jum’at pun sudah semakin dekat, aku memutuskan untuk datang ke gedung MIC setelah shalat jum’at. Aku memilih untuk menunggu masuknya waktu shalat jum’at terlebih dahulu di Mesjid Salman, Kampus ITB.

Ketika pertama kali sampai di depan ruang tunggu dan tempat penyimpanan sepatu mata ku tertuju ke sekelompok mahasiswa dan organisasi PMI yang tengah melaksanakan kegiatan donor darah, setelah itu secara tidak langsung mata ku tertuju ke layar monitor yang tergantung di tiang mesjid. Disana bertuliskan “Innalillahi wa innailaihi rooji’un Telah Meninggal Ibu Prof. Dr. S******”.

Tulisan yang terpampang tersebut menjadi pertanyaan besar bagi ku “ Suatu saat pasti aku akan meninggal, tapi aku tidak tahu kapan? Aku berharap Allah matikan dalam keadaan yang baik, Tapi bagaimana kalau sekarang? Sedangkan aku masih bermaksiat?”

Kemudian aku mengambil segelas teh dan duduk di pojok di dekat tiang, sembari memegang gadget dan melihat notif dari berbagai media sosial,tiba – tiba aku di kejutkan oleh suara petugas, “Maaf.. tolong geser sebentar ada jenazah yang akan di shalatkan di mesjid”.

Aku kemudian beranjak memasukkan gelas bekas minuman teh tadi kedalam ember yang khusus berisi gelas kotor, setelah itu aku bergegas menuju wc dan kemudian masuk ke ruang utama mesjid. Setelah itu aku membaca alqur’an surat al kahfi yang merupakan sunnah di hari jum’at. Sesekali aku istirahat dari membaca alqur’an dan membaca notif yang ada di gadget kembali.

Jantung berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya, tangan berair dan badan serasa menggigil. Sebuah postingan di group kelas cukup membuat ku terkejut. “Kawan – kawan D4 kami telah melakukan evaluasi progress tugas akhir hingga pra sidang kemarin. Berbeda dengan Bacth yang lalu, pada bacth ini kelayakan mengikuti sidang akan di putuskan menjelang sidang (sekitar awal november). Asisten pembimbing masing – masing kelompok TA adalah pihak pertama yang akan mengevaluasi bahwa Kelompok TA anda layak atau tidak untuk mengikuti Sidang”.

Aku berpikir ini adalah hari jum’at, hari yang diberkahi oleh Allah, Mudah2an Allah memberikan kemudahan untuk ku dan teman – teman ku untuk menyelasaikan studi ini. Aku inigin membahagiakan bapakku, ibukku dan semua orang yang mencintaiku.

Tak cukup hanya disitu, hari ini kejadian yang membuat air mata ini tumpah kembali adalah ketika habis shalat jum’at lagsung melaksanakan shalat jenazah untuk ibu prof yang meninggal di monitor pengumuman mesjid tadi. Entahlah, kenapa aku tiba – tiba langsung teringat pada peristiwa 3 tahun lalu, ketika di hari jum’at itu menjadi kali pertama aku menjadi imam di shalat jenazah untuk ibuku  (semoga Allah memudahkan ia didalam alam kuburnya dan memberikan kelapangan untuknya). Pikiran ku melayang, teringat pada saat pertama di telpon oleh abang kandung ku dan menyampaikan bahwa ibuku sedang sakit parah dan langsung memintaku untuk pulang ke kampung sore itu juga.Dalam perjalan hal – hal aneh mulai terbayangkan, dan salah satunya adalah bagaimana ibuku meninggal? Ketika itu aku benar – benar pasrah, aku beriman akan taqdir Allah. Aku berharap semua adalah untuk kebaikan ibuku. Perjalan panjang mengahabiskan waktu sekitar 4.5 jam perjalanan akhirnya aku sampai di kampung ku. Aku di tunggu oleh sepupu yang telah menunggu sedari tadi. Baterai HP yang sudah mati, sehingga menyulitkan ia untuk menghubungiku. Selama perjalanan beliau hanya diam, dan sampai di persimpangan masuk rumah, aku sudah mulai menduga bahwa ibuku telah meninggal dengan melihat banyaknya motor yang parkir dan ramainya warga yang ada di rumahku.

Aku diam, tak tau apa yang musti ku perbuat. Aku tatap wajah ibuku, ia telah tiada. Entahlah, berat rasanya untuk percaya akan semua itu. Semuanya begitu cepat, aku merasa bersalah tidak berada di samping ibuku ketika ibuku berjuang untuk melawan kematian.

Beberapa etek (bibi-red) mencoba untuk menenangkanku, “yang sabar ya nak, jangan nangis dan terlalu bersedih nanti adikmu nangis “.

Aku mencoba untuk tidak melihatkan kesedihanku dan menahan air mataku, tapi apalah dayaku, ketika membaca beberapa ayat alqur’an aku kemudian menangis tak mampu ku tahan air mataku. Beberapa waktu kemudian aku coba mengambil handphone ku dan memberitahukan kepada teman – teman kampus ku bahwa aku izin tidak kuliah karena ibuku meninggal.

Yah, hari ini aku merasa seperti peristiwa 3 tahun lalu, kesedihan tiba – tiba merasuki jiwa ku, aku berharap semoga Allah lapangkan ibuku di alam kuburnya dan semoga Allah mudahkan aku menjadi anak yang shaleh sehingga aku bisa membantu orang tua ku di akherat nanti, Aamiin.

 

Advertisements