Bismillahirrohmanirrohiim

Masih di suasana dinginnya malam kota kembang yang mulai menyelinap menusuk tulang belulang ku. Entahlah aku merasa sedikit lebih nyaman di tempat ini. Di Mesjid Kampus Gajah Duduk ini, selain ini merupakan rumah Allah suasana nya juga cukup nyaman dan kondusif, bila aku merasa lelah dan penat dengan dunia ini aku mencoba untuk meluangkan waktu berlama – lama disini. Mencari sebuah arti kedamaian dan ketentraman.

#bactToTopic kali ini aku ingin bahas tentang sebuah hal yang sangat sensitive terutama bagi para single (Bukan jomblo ya :P) Bagi ku single dan jomblo itu beda tipis. Kalau single itu bagi ku orang yang memutuskan untuk sendiri menjalani hidup (tidak pacaran-red) sedangkan jomblo orang yang gak punya pacar alias di tinggal pacar. Hahaha.

Malam itu aku mencoba untuk buka laptop, mencoba belajar ilmu nahwu dan saraf, tekad ku masih kuat untuk bisa belajar bahasa arab. Tapi sepertinya aku masih sibuk dengan dunia ku, sehingga menjadikan belajar bahasa arab nomor sekian dan sekian. Tapi Alhamdulillah ketika mengikuti program BISA –  Bahasa Arab aku kembali termotivasi untuk kembali me muroja’ah pelajaran yang dulu pernah ku dapatkan. Ketika buka page demi page e-book bahasa arab, tiba – tiba handphone ada panggilan, ku coba buka ternyata ada telphon dari sahabatku yang jauh di seberang pulau sana. Hehe

Awal – awal cerita tentang bagaimana dengan kuliah, memberikan kabar bahwa ada orang tua dari saudara wisma yang masuk rumah sakit, kemudian bercerita tentang kado yang kemarin aku kirim dan yang terakhir ya tentang nikah.. Hahah

“Terima kasih banyak yak kado yang antum kirim, sudah ana terima. Bajunya bagus. Hehehe “

“Iya akhi. Sama – sama, muat ndak sama antum? “ Tanya ana ringkas

“Alhamdulillah muat, Masya Allah baju nya bagus banget, ana nggak pernah beli baju sebagus ini. Uni antum senang kemaren ana pakai baju ini langsung. Hehehe pas malam – malam ana buka dan langsung ana pakai. Terus uni antum nanya, ‘abang ngapain pakai baju itu malam – malam gini’. Ini baju dari sahabat abang, makanya abang pakai. ‘”  (Mulai terharu.. tissue mana tissue)

Selang berapa lama cerita kemudian beliau mulai bertanya, “Antum kapan pulang? Pulanglah dulu sebentar lihat keluarga, nanti kalau udah kerja susah buat pulang kampong. Apalagi kalau udah kerja dan sudah punya istri orang sana pasti tambah susah pulang”

“Hehe.. iya akhi, ana rencana juga mau pulang selepas ini, bulan desember ini insya Allah. Tapi nanti mau mastiin dulu kerjaan ini. Hehe”

Kemudian aku mencoba untuk bertanya tentang bagaimana dengan status kuliah beliau dan bagaimana dengan ibuk nya sekarang (-istri beliau red).

“Alhamdulillah melihat teman – teman lulus ana juga semangat juga ingin lulus,ana sekarang sudah bab 4, karena penilitian ini makanya agak lama. Ana pagi ke kampus hingga sore, malamnya kerja.  Kemaren Alhamdulillah ibuk sempat periksa ke dokter, dan Alhamdulillah sudah “positif” , insya Allah akan ada yang junior. Hahahaha  – Alhamdulillah bi nikmati”.

Saat itu ada rasa bahagia melihat saudara bahagia, ketika ia telah menemukan bidadari syurga nya dan mendapatkan indahnya menikah.  Kemudian pertanyaan yang “biasa” terlontar kembali.

“Antum kapan lagi mau nikah? “

“Hehe.. kalau ana insya Allah kalau sudah jelas status ini, insya Allah ana berani untuk bicara sama orang tua minta izin menikah”.

“Terus gimana? Calon antum sudah ada? “

“Haahahaha… “

“Gimana kalau sama anak bapak D aja, beliau punya anak gadis sekarang lagi kuliah di UGM sudah semester 7, bapak dan ibuknya sudah ngaji Sunnah insya Allah. “

“wah.. masya Allah..” jawabku singkat.
“Eh.. tapi antum ada yang nunggu gak nih? Ntar ana cari – cariin ternyata antum sudah ada yang nungggu”.

“Hahahhaa (sambal tertawa lepas)… kalau bagi ana yang selalu terpikir kemaren itu saja. Tapi ana sudah tidak ada komunikasi lagi. Terakhir komunikasi ya sekitar setahun yang lalu, ketika tahun lalu ana ada tekad untuk menikahinya, tapi qaddarullah keluarga ana blum kasih izin ana menikah, mereka lebih menginginkan ana lanjut kuliah dulu, dan yang beliau pun masih di suruh lanjut kuliah sama orang tua nya. Dan pesan terakhir yang ana ingat ‘ Kalau jodoh insya Allah tidak akan kemana’. “

“Oh gitu, terus gimana? Ya nanti coba pastiin lagi aja, kasihan juga kan nanti anak gadis orang nunggu – nunggu antum. Hehe”

“Hehe iya insya Allah, “

“Karena banyak sekarang ini kejadian ikhwan seperti itu, beliau nikah dengan orang lain, ternyata ada akhwat yang nunggu2, dan kemudian tiba- tiba nelpon dan menanyakan kalau beliau sudah menikah dan tidak kasih akhwat tersebut. “

“Iya akhi ,, insya Allah…”

“Ya pulanglah, sekalian langsung lamar akhwat tersebut..”

 

Banyak cerita dan pengalaman berharga yang sering beliau berikan kepada ana, meskipun sepertinya ini seperti semacam kompor untuk menikah, tapi bagi ana ini juga motivasi untuk segera menyempurnakan agama. Yang terutama adalah untuk menjaga diri dan menjaga agama.

Mudah- mudahan tahun depan – 2015 ana bisa menyempurnakan separoh dari agama ini. Aamiin 🙂

Bandung, 15 November 2014

Sumber photo : Google.com

 

 

Advertisements