Bismillah…

Pagi ini aku merasakan sedikit berbeda dengan tulang –belulang ku, aku merasa cukup rileks dan tenang. Dan tidak terasa pegal – pegal sedikit pun. Hmmhm.. apa memang kasur seperti ini yang tubuh ini butuhkan? Entahlah… Aku berharap semoga bulan depan aku sudah bisa pindah ke kos an agar bisa lebih tenang.

Hmmmhmm… pagi ini aku berada di sebuah ruang kamar kos yang cukup luas, dengan kamar mandi di dalam, ada lemari baju, meja belajar dan kasur spring bead yang cukup luas. Ini adalah ruang kamar mas budi. Apa yang membawaku kesini? Entahlah aku juga tidak tau, sore itu ketika di kantor pikiranku suntuk tiba – tiba aku bosan melihat laptop dan ingin mencari suasana baru.
Aku merasakan hal ini untuk yang ke lima kalinya setelah 2 tahun yang lalu.

Yang ada dipikiran ku waktu itu adalah aku ingin ke tempat mas budi, aku coba sms mas budi. Beliau tidak membalas tetapi beliau call me karena gak punya pulsa. Aku coba buka halaman facebook lagi dan ternyata ada sebuah pesan dari mas budi “Ya tafadhal akhi, ana lagi ndk ada pulsa. Hehe”.

Setelah mendapat pesan seperti itu, aku langsung bersih – bersih barang bawaan, angkat tas kemudian izin pulang. Aku langsung menuju kontrakan mengambil beberapa helai baju dan beberapa helai celana. Kemudian langsung bergegas menuju ke daerah PGC cililitan.

Sore itu kehilatan aku seperti orang linglung, tak tau arah dan tujuan. Aku bingung dengan diriku, bingung dengan semua ini. Tak henti – hentinya aku menyesali apa yang terjadi, menyesali apa yang aku lakukan. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang hendak aku perbuat.

Beli kartu e-ticketing Busway, kemudian menunggu busway ke daerah PGC cililitan yang lewat. Beberapa menit kemudian muncul sebuah busway yang gede banget, aku mencoba bertanya “ini ke PGC mas?” mas yang berada di pintu busway langsung mencoba menjawab “Iya mas”. Aku langsung melangkahkan kaki kanan kedalam busway tersebut. Tapi sesampai didalam aku masih belum yakin apakah betul busway ini ke PGC Cililitan?
Selama perjalanan aku masih keliatan bingung, rasanya ingin menangis sekeras – kerasnya, berteriak se keras – kerasnya. Aku tidak tau apa yang musti aku lakukan? Akhir – akhir ini aku lebih banyak bingung, sedih tidak menentu, pekerjaan ku terbengkalai. Lalu apa sebenarnya yang aku inginkan?

Beberapa kali aku harus menghapus tetesan air mata ku di balik kacamata hitam yang aku gunakan. Beberapa kali pula mata ku kembali berkaca – kaca. Astagfirullah.. astagfirullah.. kenapa aku ini ya Rabb?

Pandangan ku tertuju ke luar jendela kaca busway,

Aku malu pada diriku

Aku malu pada Allah

Aku takut pada Allah

Kenapa aku? Mana aku yang dulu?

Aku benci dengan diriku bila aku mulai menggunakan perasaan untuk hal ini .

Kemudian aku teringat akan ibuku, apa yang akan ku berikan kepada ibuku di akhirat nanti?

Apa yang aku inginkan? Apa yang menjadi tujuan hidupku?

Pertanyaan ini masih menggelayut di kepalaku.

 

Kemudian tiba – tiba aku kembali bangkit dari lamunku, “Apa seperti ini yang aku harapkan? Ketika semuanya sudah hancur seperti ini? Tidak fokus kerja, semuanya serba awut-awutan. Mana aku yang dlu? Mana rizki yang dlu? Aku ingin bahagiakan ibu dan bapak ku”.

 

Aku kembali menatap ke luar, aku ingin berubah. Sudahlah lupakan lah saja aku, aku yang terlalu lebay bila begini. Kita seperti biasa – biasa saja. Seperti dia yang bersikap biasa – biasa saja terhadapaku.

Lagipula aku sudah terbiasa begini, di datangi bila butuh dan di tinggal pergi bila semuanya telah selesai. Sudahlah, aku masih belum percaya dengan sahabat sejati, sudahlah, aku ingin kembali kepada Agamaku, aku ingin belajar agama lagi, aku ingin bangkit lagi, aku ingin meraih mimpi ku lagi.

 

Sudahlah, lupakan saja lah aku sahabat ku, saudaraku, bila kau telah temukan bahagia mu. Aku tidak mengapa begini. Insya Allah aku akan baik – baik saja, dan aku juga akan terbiasa seperti ini lagi.

Aku bahagia telah mengenal mu, aku bahagia telah dekat dengan mu, biarlah ku bunuh saja mimpi – mimpi ini, biarlah ku pendam saja mimpi setiap hari bertemu dengan mu dalam tidurku.

Sudahlah… sudah cukup.

 

Bila nanti kau rindu padaku, dan ingin kembali bersamaku lagi. Datangilah aku, aku insya Allah akan tetap menjadi sahabat dan saudara untukmu.

 

 

Condet, Kosan Mas Budi 21 Februari 2015

Advertisements