Tak Perlu kau tanyakan ttg kesungguhan diriku,
Tak perlu kau tanyakan ttg keseriusan diriku,
Apakah dirimu tak pernah melihat betapa besarnya perjuangan diriku?
Laut tak perlu menjelaskan betapa dalam atau dangkal nya dirinya. Kau bisa liat dari betapa besarnya ombak. .
.
.
Bila berucap tentang cinta,
Aku sangat bersyukur bisa mengenal dirimu,  ada rasa yg berbeda ku dapatkan, ada perubahan yg jauh ku rasakan.
Terima kasih telah membuatku belajar untuk mencinta dan menghargai sebuah proses cinta.
Hingga saat ini satu hal yg mendasar dari diriku adalah “KU HALALKAN ATAU KU IKHLASKAN”

Ku tak ingin menjadi penyebab dosa besar dan yg haram bagi dirimu,  cukuplah kelam masa lalu menjadi pelajaran bagi diriku.
Semua upaya yg dapat ku lakukan,  telah ku kerahkan.  Meski berujung sebuah “KEIKHLASAN”
Berat memang,  tapi semua adalah takdir dan kehendak dari Allah, aku berharap ada sebuah pelajaran terindah yg ku dapat suatu saat nanti.
Setidaknya,  sampai saat ini aku sudah sangat bersyukur dg semua ini
Tak banyak lagi yg dapat ku ucap,  seolah mulutku bungkam tak mampu berkata-kata,
Rasanya ada sebongkah batu besar yg menghujam diriku hingga ku tak mampu lagi tuk bergerak lebih banyak.
Hanya saja,  aku selalu yakin dengan kekuatan sang pencipta,  bila dirimu adalah tulang rusuk itu, Tak kan susah bagi Allah untuk membuat kita bersama.
Dan ku selalu yakin,  rejeki tak akan pernah tertukar dan tak akan pernah di ambil orang. Semuanya telah di tetapkan oleh Allah.
Semoga jiwa ku bisa menjadi kuat,  menjadi lebih tegar dan menjadi lebih ikhlas.
Bila bukan diriku,  ku yakin ada yg lebih baik daei diriku untuk dirimu. ©Mencoba berdamai dengan cinta