Kali ini aku ingin bercerita tentang satu hal, yang sangat ini sangat sulit untuk ku lupakan. Mungkin ini adalah pelajaran berharga bagi diriku kelak, bila diberi umur yang panjang dan waktu yang banyak. Sebuah catatan perjalanan cinta.

Siang itu, sepulang jalan – jalan di luar dengan seorang keponakan di rumah, bapak yang sedang duduk di kursi sofa sepulang dari bekerja bertanya kepada ku “Bagaimana dengan rencana nikah mu itu?

“Apabila bapak mengizinkan, aku siap. Bapak tak perlu risau dengan biaya ini itu, biar ku tanggung semuanya. Bila bapak tanya kepada ku apakah aku sudah bertekad bulat untuk menikah, maka aku katakan IYA. Tapi itu tergantung bapak, apakah bapak sudah mengizinkan aku untuk menikah?”

“Ya, kalau untuk menikah itu tentu lah bapak izinkan, tapi bapak berharap nanti saja lah dlu, tunggu sebentar lagi kalau bisa sehabis lebaran aja, bapak sudah tua begini, jalan saja susah, apalagi adik mu masih tingkat 3 kuliah. Bila kau nanti menikah siapa yang akan bantu adikmu kuliah? kalau diharapkan semuanya kepada bapak, tentu lah susah bapak sudah semakin tua”

“Masalah biaya adik kuliah, tak perlu lah bapak risau kan itu, insya Allah aku masih sanggup untuk bayar adik kuliah. Bapak do’a kan saja agar rejeki ku selalu dimudahkan oleh Allah. Alhamdulillah sekarang dalam sebulan aku bisa dapatkan 10 juta, mohon do’a nya bapak saja agar aku selalu dimudahkan rejeki oleh Allah.”

Sembari memegang sebatang rokok di tanganya, bapak tampak berpikir panjang, hal yang paling bapak takutkan adalah ketika aku menikah, aku tak bisa lagi bisa bantu keluarga, adik yang kuliah dan sebagainya. Berulang kali aku sudah coba ku  jelaskan bahwa insya Allah tidak akan seperti itu. Tapi entahlah, seperti nya sangat sulit bagiku untuk menjelaskan semua itu.

“Jadi, apa rencana mu selanjutnya?” bapak mengakhiri renungannya

“Rencana nya aku mau datang ke rumah yang perempuan, bila bapak setuju kita lamaran,kita langsung lamaran, kalau tidak ya tidak apa-apa kita silaturrahmi saja. Biar bapak juga tau siapa calon ku itu dan siapa orang tua nya. Aku sudah belikan sebuah cincin emas untuk persiapan lamaran kemaren”.

Bapak tampak terkejut dengan apa yang aku ucapkan, tiba-tiba yang awalnya nadanya masih normal kini sudah sedikit meninggi.

Dalam bahasa minang beliau menuturkan “kalau lah kareh mode tuh dek ang, yo dak dapek lo dek den lai. kami ka manuruik ajo lai nyo, Semenjak amak ang maningga ko den lah barusaho untuk indak manikah lai, kalau manikah baliak beko adiak ang taseso, ang taseso juo dek dulu masih kuliah. Den dek masih sayang ka adiak ang, makonyo den tahan untuk ndak manikah. Den berharap ang bisa tuak nolong adiak kuliah,dek kondisi badan den dak kuek lai. ” 

“Kalau sudah seperti yang kau mau, ya tak ada yang dapat ku perbuat lagi. Kami hanya bisa menurut dengan kehendak kau. Semenjak ibu kau meninggal, aku berusaha untuk tidak menikah lagi, kalau manikah nanti adik mu teraniaya, dan kau juga karena dulu masih kuliah. Aku masih sayang sama adik kau, makanya, aku tahan untuk tidak menikah. Dan berharap kau bisa bantu adik kau kuliah karena kondisi badanku yang sudah tidak semuda dulu.”

 

… Aku kemudian hanya bisa terdiam, tak banyak lagi yang bisa ku ucapkan, Aku selalu mencoba untuk berucap dengan kata yang lembut, agar tidak menyakiti perasaan orang tua ku, tapi mungkin beliau tersinggung karena aku masih benar – benar ingin untuk menikah.

Setelah lama diam , akhirnya bapak ku bicara lagi “ya sudahlah, nanti kau coba tanya saja sama mamak (paman – red) karena di minang, aku sebagai orang tua tak bisa mengambil keputusan, keputusan ada di mamak kau. anak yang anak awak, tapi kamanakan kamanakan urang (anak yang anak ku, tapi kau adalah kemenakan orang lain atau paman ).

Tak lama setelah itu, bapak beranjak pergi menuju ruang dapur. aku masih tertegun di ruang tamu sendirian. Ku tatap langit – langit rumah, semakin lama semakin berat yang ku rasakan. “Ya Allah, apakah ini jawaban dari istiqharah ku selama ini? ”

Semenjak saat itu, aku jatuh sakit, pusing kepala berkepanjangan. Rasanya tak mampu lagi rasanya aku berfikir jernih. Sangat sulit sekali, terlebih bila aku mengingat sebuah percakapan singkat dengan seorang ibu calon mertua itu “Ibu, aku sudah di kampung, insya Allah dalam waktu dekat aku akan berkunjung ke tempat ibu, bareng paman atau bapak”. Selain itu, yang menjadi pikiran berat bagi ku adalah ia, seorang perempuan yang akan menjadi calon istri ku itu. Aku sempat mengabari kepadanya kalau aku sudah di kampung dan aku juga sudah membelikan sebuah cincin untuk lamaran nanti. Aku juga sudah meminta untuk kembali ke padang karena saat itu juga di jakarta, bahkan aku sempat mengatakan bila tak ada uang biar nanti aku yang bayarkan uang tiketnya, agar kita bisa berjumpa dengan keluarga.

Arghhhh..

Berat memang, tak ada yang seberat ini yang ku rasakan. merasakan sebuah kompleksitas sebuah permasalahan hidup. Awalnya aku berfikir menikah tidak terlalu memusingkan kepala, tapi nyatanya sampai membuat aku jatuh sakit.

Semenjak saat itu, waktu yang ku jalani terasa sangat berat, ingin rasanya untuk cepat pulang kembali ke perantauan, karena tak ada lagi yang ku cari untuk pulang kampung bila akhirnya seperti ini.

Waktu yang ku lalui, kini hanya berbaring di tempat tidur. Mengantuk bukan, tapi hanya pusing yang ku rasakan. Sekitar pukul 3 sore itu, paman ku datang. Paman ku ini adalah paman tertua dari 5 paman ku yang ada. Biasanya orang di kampung ku menghormati ia, dan keputusan ia adalah keputusan yang menjadi pegangan dari orang lain bila ada permasalahan di kampung ku.

“baru bangun ki?”

“iya mak odang (mamak godang atau paman yang tua)”

setelah basa basi dengan pertanyaan yang biasa, seputar perjalanan pulang kampung. kemudian beliau bertanya ” jadi gimana untuk rencana pernikahan mu itu ki?”

“Iya mak odang, tadi sudah bicara dengan bapak untuk rencana nya . Rencana nya kalau bapak membolehkan untuk lamaran , rencana mau datang ke rumah pihak perempuan dalam minggu ini. tapi kalau tidak, ya nanti setidaknya siltarrahim keluarga saja”

‘Terus gmana kata bapak mu?”

“Kata nya nanti coba tanya mak odang, ”

“Wah, gak bisa gitu juga donk. seharusnya bapakmu juga kasih keputusan. gak bisa mak odang sendiri saja. ”

“waduh, aku jadi bingung mak odang kalau di putar putar begini, kata bapak tanya mak odang, kata mak odang tanya sama bapak”

“Ya sudahlah, nanti malam aku balik kesini lagi, nanti malam kita diskusikan bersama. kata mak onga (mamak yang nomor tengah atau pamah kedua) mu gimana?”

“Kemaren mak onga sudah sms aku, katanya keputusan aku untuk menikah sudah keputusan yang tepat, tinggal nanti bagaiman rizki bicara baik-baik dengan bapak dan mak odang, dan coba juga sampaikan masalah hutang bapak iki itu, karena setau mak odang, bapak masih ada hutang sama mak utiah dan mak odang”

“Ya sudahlah, nanti malam saja kita bicarakan lagi, mak odang pulang dulu saja ya”

Tak lama kemudian, mak odang beranjak dari sofa tempat duduknya, aku masih memperhatikan beliau hingga benar – benar hilang dari pandanganku. Dan lagi, aku kembali terdiam. Bingung, tak tentu apa yang akan ku lakukan. Semuanya semakin kabur dan tak jelas. (T_T)

 

Bersambung…