Bismillah

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin ”

Akhir – akhir ini istilah ini lebih menempel dipikiranku, selain karena baru baca sebuah novel karangan Tere Leye – ternyata istilah ini juga sering muncul di beranda sosmed, 🙂

Ada satu hikmah terpenting yang bisa ditangkap dari sebuah istilah ini, yakni belajar sebuah KEIKHLASAN. Bahwa sesuatu yang menjadi milik kita dan di taqdirkan oleh Allah menjadi milik kita maka selamanya itu akan menjadi milik kita, dan apabila sesuatu ditakdirkan oleh Allah bukan milih kita maka sekuat dan segigih apapun kita pertahankan akan tetap lepas dan pergi. Oleh karenanya, sudah saat nya kita belajar untuk menerima takdir dari Allah, belajar dari sebuah keikhlasan.

Belajar dari pengalaman hidup, semakin aku mengerti akan sebuah KEIKHLASAN. Tidak ada seindah dan sebahagia ketika kita melaksanakan semuanya ikhlas dan ridho terhadap takdir Allah.

Kehilangan seorang yang kita cintai,

Dikecewakan teman, keluarga, teman sekantor, rekan kerja dan lainnya,

Selalu di remehkan orang lain,

Selalu dihinakan karena orang yang tidak punya,

Kebaikan yang tidak dianggap,

Diremehkan, dan lainnya

Sudah menjadi asam manis garam dalam hidup ini. Menjadi pelajaran berharga tapi sungguh tidak pernah ada rasa benci sama sekali. Memang terkadang ada pertanyaan “mengapa dan mengapa” tapi insya Allah beberapa hari sesudahnya akan biasa saja seperti tak pernah ada masalah.

Tak jauh juga dengan kompleksitas permasalah di keluarga belakangan ini, di caci-maki, di hina, dan merasa di acuhkan, bagi ku sudah biasa. Tak ada yang ku benci sama sekali. Mungkin itu lah cara mereka mendidik ku. Mungkin.

Tapi apapun itu, aku akan tetap belajar untuk sebuah KEIKHLASAN dan menerima takdir Allah, tak ada yang lebih indah selain dari dibawah naungan Ridho Illahi 🙂