Bismillah,

 

Last day I got more experience especially about how to be a good people. Menjadi pribadi yang jujur meski itu menyakitkan.

Actually, 2 days a go when i get more problem with my job and then get more problem with family and get more problem in my office. Dan itu rasanya pengen ‘Udahan’ aja. Terlebih ketika sedang tugas di luar ada problem juga dengan seseorang yang sudah seperti adik sendiri. Honestly, when i see him i see my nephew and my younger brother. Bertahun – tahun gak pernah ketemu dan ketika melihat orang lain tapi ingatnya sama orang terdekat itu rasanya kangenn banget. But, i know i’m nothing.

Saat itu selepas shalat dzuhur di sebuah rumah sakit swasta di jakarta. Aku duduk yang tak jauh dari mesjid. Sebenarnya untuk membicarakan hal ini adalah hal yang paling dibenci seumur hidup. Yakni membicarakan tentang sebuah permasalahan. Bukan tak suka dengan sebuah problem, tapi kalau bisa hidup damai kenapa harus ada problem ?

Malamnya selepas sampai di sebuah kosan yang berukuran tak lebih dari 4×4 itu. Aku langsung charger hp, kemudian baca chat lagi kenapa ia yang biasa aku sebut “adik” tidak izin bila tadi ia pergi. Beberapa orang mulai menanyakan kemana ia pergi. Dan aku sendiri juga tidak tau kemana ia pergi karena dihari itu aku juga sedang tugas keluar ke daerah banten.

Setelah mendapat informasi dari salah seorang temannya bahwa ia pergi dengan yang berinisial F, perasaan ku mulai tidak tenang. Malamnya aku beranikan untuk mengecek kontaknya. Masya Allah, Astagfirullah. Rasanya tidak percaya, rasanya aku tertampar dengan sebuah kenyataan. Malam itu tak bisa tidur, kepala makin pusing rasanya. Ya Allah, is it real ? Rasanya gak nyangka banget, orang yang sudah dipercaya, orang yang sudah ku anggap seperti adik sendiri ternyata diam diam main di belakang, berbohong.

Malam itu tak tau sudah jam berapa akhirnya aku putuskan untuk menghubungi teman di kantor terkait masalah ini. Dan secara jujur, aku pribadi sudah tidak sanggup lagi untuk mengontrol mereka ini. Dan malam itu juga, aku sudah tekadkan untuk berbicara 4 mata dengan ia esok nya. Pengen menyelesaikan baik baik semua ini sebelum di proses oleh pimpinan kantor dan sekolah.

Beberapa hari sebelumnya aku juga sudah sampaikan kepada pimpinan kantor bahwa aku tidak yakin bisa mengontrol dan menjaga anak-anak ini hingga masa magang mereka habis. Paling nanti september bila tidak ada perubahan aku akan akhiri masa magangnya. Karena secara fisik aku sudah tidak terlalu sanggup lagi buat mengurus semuanya.

Singat cerita, keesokan harinya. Selepas menemani ia chek up di Rumah sakit, aku beranikan diri untuk bertanya meskipun sebenarnya sangat takut banget. Aku sangat takut bila melukai hati dan perasaan orang lain. Selama ini lebih banyak diam dan memendam apa yang dirasa. Meski menyakitkan sekalipun. Aku hanya tidak ingin melukai orang lain, itu saja.

Setelah beberapa waktu duduk, akhirnya ia datang  dan bilang

“Sudah kak? kita pulang lagi yok?”

“Gimana tadi hasil ronsen nya ? kapan bisa di ambil?”

“Sudah tadi kak, katanya besok bisa di ambil”

“Oh gtu, biar nanti saja aku yang ambilkan pas nanti ke jakarta lagi . ”

Kemudian aku diam sejenak, masih berfikir untuk apa yang akan disampaikan. Aku sangat dan sangat takut bila yang aku sampaikan nanti itu salah dan menyinggung perasaannya

“Maaf, aku boleh tanya gak?”

“Tanya apa kak ?”

“Kemaren antum pergi kemana dan dengan siapa ?”

Ia mulai sedikit gugup dan agak kebingungan. Awalnya hp yang sempat ia pegang sekarang sudah ia simpan letakkan di atas keramik tempat kita duduk tersebut

“Kemaren pergi jalan”

“Jalan Kemana ?”

“Nonton ”

“Nonton dimana ?”

“Nonton di FX”

“Nonton apa ?”

“Ya nonton aja, ”

“Nonton apa ? bareng siapa?”

“Nonton film aja, sendirian. ”

“Hmmhm.. yakin ? jujur sajalah, aku tidak akan memarahimu”

“Beneran kak, ngapain aku bohong. Kemaren aku jalan jalan habis itu pulang”

“Tapi kemaren kata teman mu kamu pergi dengan F. ”

“Ha ? Masa sih kak? F aja di bandung, gak mungkin lah aku pergi dengan dia. dia mungkin salah tanggap.”

“Salah tanggap gimna? ini chat nya coba kamu baca”

Kemudian ia membaca chat yang dikirimkan temannya terkait hal tsb dan kemudian ia bilang “seperti nya dia salah tanggap kemaren kan pas di kosan nya dia aku cerita. Nah mungkin dia ngira aku perginya sama F, kak”

“Masa sih ? kamu yakin? jujur aja lah, aku tidak akan memarahimu”

“Beneran kak, ngapain bohong. Bohong kan dosa.”

Hmmh.. aku sudah mulai kehabisan kata-kata terlebih kalau sudah membahas masalah dosa segala macam. Tapi aku masih berfikir kenapa ia masih mau berbohong padahal ia tau dosa ? Mmhm.. mungkin dihukum dari sekolah lebih ditakutkan dari pada dosa.

Akhirnya tanpa pikir panjang, aku coba perlihatkan apa yang aku temukan semalam dari chatnya dia dengan beberapa teman-temanya

“Coba kamu liat ini. ” sembari aku sodorkan hp ku kepadanya

Ia cukup lama menatap layar handphone tersebut dan kemudian ia kembali berbicara

“Oh iya kemaren F nanyain ini kak” dan beberapa kata-kata yang ia ucapkan tapi aku tak begitu jelas mendengarnya

“Mmh.. coba deh kamu scroll lagi ke samping nya. ”

Kemudian ia coba liat yang lainnya dan ia mulai tertunduk . Entahlah apa yang ada di pikiran nya saat itu, tapi yang jelas, saat itu ia sudah diam membisu dan kepala nya tertunduk. Kemudian masih dengan nada yang pelan aku sampaikan

“Zein, percuma antum berbohong. Aku sudah tau apa yang sebenarnya. Aku juga tidak akan memarahami mu. Sekarang bila kamu ingin bebas, ingin seperti teman-teman mu yang lain, pergi kesana kemari. OK. Gak masalah, Mulai hari ini atau besok aku juga bebaskan kamu. Silahkan kamu cari tempat magang yang lain, silahkan kamu cari perusahaan yang lain. Aku juga tidak akan memaksamu untuk magang disni, untuk tinggal di citra. Kamu bebas kok, kamu cari aja perusahaan yang mau menerima mu magang”

“Aku masih ingin di IMA kak. ” ucapnya pelan dan masih tertunduk

“Hmmh, sekarang aku pengen tau mau mu seperti apa ? Aku kan tidak tau apakah selama ini kamu betah tinggal di citra, apakah kamu betah di kantor. dan apakah kamu ingin main sebebasnya aku tak tau. Sekarang mau mu seperti apa?”

“Aku masih ingin di IMA kak. Aku sangat betah di IMA karena ada yang memperhatikanku, di tempat lain atau di perusahaan lain belum tentu ada”

“Kalau memang seperti itu, mungkin aku  akan batasi kamu untuk pergi – pergi main. Aku sebenarnya sangat pusing, belum lagi masalah pekerjaan, ngurusin sekolah, masalah keluarga. kemudian kamu juga berulah. Kamu pikir aku tidak pusing ? Aku sangat pusing, zein. Terlebih nanti yang ujung-ujungnya kena juga aku kan ? orang-orang di kantor menanyakan kamu kemana , begini -begitu nanti aku juga yang salah kan? Kini sudahlah, aku sudah bilang sama kamu kalau aku sudah tidak begitu sanggup buat mengurusi semua nya. Bila kamu ingin bebas ya kamu silahkan cari tempat lain. Bagiku gak masalah. Aku sudah bilang ke bapak di kantor bila tidak ada perkembangan dari anak-anak magang hingga september nanti mereka tak suruh cari perusahaan lain aja. Sekarang ngomong lah apa yang ingin kamu omongkan ? Mungkin dari segi aku dan teman-teman dikantor yang banyak kamu tidak suka, atau yang tidak berkenan, ngomonglah.”

“Aku jujur kak, aku memang akui ini. Aku minta maaf kak. Jangan salahkan F kak. Karena kemaren yang ngajak itu aku, kak. Aku kan selama ini gak  pernah nonton yg Jkt gituan kak. Pengen banget, ya udah aku ajak aja. Karena ia kan sudah tau kak. ”

“Hmmh kamu masih aja belain teman mu. Kamu lebih kasian kepada teman mu dari pada dirimu sendiri”

Ia masih menunduk, entahlah apa yang sedang ia perhatikan di atas tanah itu, mengukir sesuatu yang tidak jelas aslinya.

Sembari mengusap kepalanya aku sampaikan “Sekarang bila kamu membenciku gak masalah, karena aku menghalang-halangi keinginanmu. Kamu tidak jadi bebas. Aku dan teman-teman di kantor bagi mu dan teman-teman sekolahan mu seperti sebuah mata-mata atau CCTV yang sangat kalian takuti. Tidak msalah kalau kalian benci kepada aku dan yang lainnya. Tidak masalah kalau kamu ingin block dari berbagai sosmed mu. Karena sebagai guru dan kakak bagi mu tidak cukup hanya mengajarkan ilmu. Kalau mengajarkan ilmu semuanya sudah selesai. Tidak perlu lah aku mengurusimu. Tapi kan tanggung jawab ku tidak cuma itu ? tentang akhlak mu juga tanggung jawab kami. Aku masih terbayang orang tuamu yang menitipkan mu kepadaku, kamu pikir tanggung jawab ke orang tua mu itu gampang, zein ?Nggak. Berat. Aku juga tidak tau ketika kamu pergi dan tanpa izin kemudian orang tua mu menanyakan hal tentangmu kepada ku , apa yang akan aku jawab ? Aku tidak menyangka bila kalian ternyata multi-face. Bermuka dua. Didepan kita kalian baik-baik dan dibelakang kita ternyata kalian buruk.”

Aku mencoba mengambil nafas panjang, dan ku lihat ia masih menunduk. Entahlah apakah ia masih mendengarku apa tidak, tak penting bagiku . Kemudian aku kembali sampaikan

“Jujur aku pribadi, ketika aku melihat mu aku seperti melihat adik ku, aku seperti melihat keponakan ku yang bertahun tahun tidak pernah ketemu. Makanya aku senang melihatmu. Tapi aku tidak menyangka banget, aku sudah sangat percaya kapada mu. Kamu sudah ku anggap seperti adik ku sendiri. Kecewa sebenarnya, sangat kecewa tapi sudahlah. Awalnya aku berfikir kamu lebih baik dari yang lain, karena di awal awal dulu ke citra aku liat kamu setidaknya lebih baik dari 2 teman mu yang lain. Makanya selama ini aku tidak melepasmu untuk keluar dari kantor. Tapi sekarang sudahlah, mungkin aku yang salah. Sekarang sudahlah, kalau kamu ingin berubah dan masih ingin tetap di kantor. Berubahlah, mari kita sama perbaiki diri dan berubah menjadi lebih baik. Hanya satu yang ingin aku pesankan, cobalah untuk belajar lebih baik lagi, kurangi main, cobalah untuk fokus. Bahagiakan lah orang tua mu. Bila dulu orang tua mu mengenalmu bukan dengan prestasimu sekarang tunjukkan kalau kamu bisa bahagiakan mereka.”

Hmmh.. rasanya sudah terlalu panjang yang aku sampaikan kepadanya dan saat itu aku melihat sudah jam 1 siang lebih. Kemudian aku raih tanganya dan bersalaman dengannya.

“Aku minta maaf ya, bila selama ini banyak salah, banyak hal yang tidak membuat mu nyaman dan senang”.

“Aku juga minta maaf kak, sudah merepotkan kakak. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Bila nanti ketahuan seperti itu lagi aku siap kak dengan konsekwensi nya tapi untuk saat ini aku mohon kak, jangan di laporkan ke sekolah dan kantor ya kak. Aku mohon banget kak”

“hhmm iya, aku belum smpaikan hal ini ke atasan. aku pikir berbicara dengan mu terlebih dahulu lebih baik. Tapi aku tidak yakin apakah aku masih tetap bisa mempertahankanmu. Jangan lah berjanji kepadaku, janjilah kepada Allah, bila kepadaku akan mudah untuk dikhinati”

“Ayok kita pulang lagi, sudah hampir jam 2. ”

“Iya ka, aku cuci tangan dulu”

Setelah itu kita beranjak pergi dari rumah sakit. Meski sebenarnya sudah sedikit PLONG, tapi aku tetap belum bisa menyembunyikan rasa kecewa. hingga sesampainya di rumah, aku masih belum bisa terima terkait hal ini. Ada rasa kecewa, ketika kita mempercayai orang lain dan bahkan sudah seperti saudara sendiri tetapi ternyata kita di khianati, di kecoh, dan lainnya. Tapi ya sudahlah, aku yakin ada pelajaran terbaik dari semua ini. Aku sekarang sadar, untuk mengontrol orang lain tidak lah mudah, kecuali hanya ada pertolongan dari Allah. Aku hanya bisa berdo’a semoga suatu saat ia bisa berubah menjadi lebih baik, dan menjadi anak yang shaleh. 🙂 dan semoga ini adalah kebohongan yang terakhir tidak ada lagi kebohongan yang tercipta. Aaamin

I’m so sorry for everthing .