Segelas jus pare itu terasa pahit, karena ada di satu gelas, lantas kita minum. Coba tuangkan segelas jus pare itu ke dalam kolam renang, apa masih pahit air kolamnya?

Begitulah pula kehidupan. Rasa sakit, sesak, kesedihan, kesusahan, kesulitan yg kita alami, itu terasa pahit kalau dilihat dari satu titik waktu, coba dibentangkan lebih luas demi masa depan yg lebih baik, demi manfaat bagi sekitar, maka apa tetap terasa pahit?

*nasehat lama – tere liye

 

Dear Bapak,

 

2785104906848698021_account_id=1

 

7565518669246756116_account_id=1

Tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata betapa bersyukurnya aku terlahir dari keluarga yang sederhana seperti bapak dan ibu. Hingga saat ini, aku sangat bersyukur bisa menjadi anak bapak.

Bapak yang sangat sederhana, meski tak banyak mengajari tentang banyak hal dalam kehidupan ini. Tapi dari semangat berjuang nya bapak aku bisa belajar menjadi anak yang bertanggung jawab.

Aku bangga,

Tak pernah ada rasa malu bila terlahir dari keluarga yang sederhana, keluarga petani. Tak pernah malu sedikitpun. Melainkan aku sangat bersyukur karena bisa belajar menerima takdir Allah, belajar bersyukur dengan apa yang kita punya, belajar untuk tetap semangat menjadi setiap waktu kehidupan.

Bapak, terima kasih banyak telah menyekolahkan ku hingga aku bisa lulus wisuda Diploma 4. Di tempat kuliah paling bergengsi di Tanah Air ini.

Terima kasih telah membiayai hidupku selama ini, terima kasih telah memberikan izin untuk menikah di tahun 2016 lalu.

Bapak, banyak hal yang tak bisa ku sebutkan satu per satu.,

Aku selalu berharap dan berdo’a agar Allah senantiasa melindungi bapak, memberikan kelapangan dada, kelapangan hati, memberikan ketenangan hidup, diberikan umur yang panjang. Aku berharap sekali semoga suatu saat nanti kami bisa menaik hajikan / mengumrahkan bapak.

Semoga bapak diberikan kesehatan selalu ya

Dari Anak mu

Di sudut Rumah Mertua Indah